Sabtu, 19 Februari 2011

PSSI, Bola dan cerita Bapak

Bola..., bisa saja bola voli, bola basket atau bola pingpong. Namun jika disebut bola saja, pasti akan terpikir bola kaki atau sepak bola. Ya, sepak bola demikian "mendarah mendaging dan mengotak" dalam tubuh sebagian besar dari kita. Tulis sebuah kata, seumpama Irvan Bachdim, lingkari dan beri anak panah keluar dari lingkaran tersebut yang mewakili sebuah kata yang terkait, maka sebuah jejaring anak panah akan memenuhi kata itu. Demikian juga misalnya jika anda melakukan hal yang sama dengan kata Lionel Messi atau "El loco" Chris Go.
     Padahal waktu kecil, Bapak saya pernah bercerita bahwa pasukan yang membantai cucu Rasullullah SAW, menjadikan kepala cucunda yang mulia itu sebagai bola sepak mereka. Bapak menceritakan itu untuk menekankan bahwa, sepak bola adalah permainan yang "tidak beradab". Saya setuju, bahwa sepak bola memang permainan yang tidak beradab..., jika dimainkan dengan kepala siapapun, apalagi cucunda baginda Rasulullah yang mulia.
     Hari ini, uang menjadikan permainan tidak beradab itu menjadi sebuah industri triliunan rupiah, menjadi sebuah tontonan yang mengusik dan mengaduk-aduk emosi sekian banyak manusia bahkan menjadi sebuah sebuah batu penjuru baru bagi kata nasionalisme. Namun beberapa jam yang lalu, sebuah berita saya dengar tentang PSSI, otoritas yang diserahi wewenang agar permainan tidak beradab tersebut dapat, setidaknya,  menghibur rakyat yang saat ini tengah dihimpit berbagai persoalan melalukan perbuatan yang kembali mengingatkan saya tentang cerita bapak bahwa dulu pasukan pembantai cucunda Rasulullah SAW yang mulia menjadikan kepala yang mulia itu sebagai bahan permainan sepabola ....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar