Sabtu, 16 Oktober 2010
direktori penulis perempuan, Ratna Indraswari Ibrahim
Abdi Purnomo
http://www.korantempo.com/
Kunang-kunang begitu memesonakan hati Bonet. Rasa ingin tahu bocah perempuan sebelas tahun ini membesar karena ibunya, Gita, rajin mendongengkan keindahan kelap-kelip kunang-kunang yang gampang dijumpai di sekitar rumah kakeknya pada malam gulita. Bonet pun merengek ingin melihat binatang renik yang mengeluarkan cahaya unik itu.
Gita dan Paul, suaminya, kelabakan. Mereka tahu kunang-kunang di Kota Malang nyaris hilang. Berbekal harap yang belum putus, Gita melayangkan surat pembaca ke koran untuk menanyakan di mana kunang-kunang mudah dijumpai. Surat Gita ditanggapi Ibu Indri, bekas dosen yang tinggal di sebuah taman kota bernama Lemah Tanjung.
Ibu Indri mempersilakan Gita membawa Bonet ke Lemah Tanjung selagi sempat. Pasalnya, kunang-kunang di tempatnya pun sebentar lagi menghilang bersamaan berubahnya lahan Lemah Tanjung menjadi kawasan perumahan mewah. Padahal, kunang-kunang di Kota Malang tinggal tersisa di Lemah Tanjung.
Cerita berdasarkan kisah nyata itu kemudian ditulis lagi oleh Ratna Indraswari Ibrahim, sastrawan nasional dari Malang, dalam novelnya. Warga Kota Malang mengenal Lemah Tanjung sebagai lahan bekas kampus Akademi Penyuluh Pertanian (APP) seluas 28,5 hektare. Hutan Lemah Tanjung menjadi satu-satunya paru-paru kota yang tersisa, sekaligus menjadi buffer zone Kota Malang. Di dalamnya terdapat hutan heterogen, kebun kopi, kakao, sawit, ladang jagung, hamparan sawah, pun lapangan rumput terbuka. Hidup pula sedikitnya 128 spesies tanaman, yang beberapa di antaranya belum teridentifikasi; menjadi tempat bernaung 36 spesies burung langka.
Pembelaan Ratna pada Lemah Tanjung tertuang dalam novel dengan judul yang sama. Diselesaikan dalam dua tahun, kini novel Lemah Tanjung diangkat menjadi cerita bersambung di harian Jawa Pos. Boleh dikata, Lemah Tanjung merupakan karya Ratna yang paling komplet. Pergulatan batin dan emosinya begitu kental, pergolakan cintanya amat kentara, kesadaran sejarahnya demikian kuat.
Pada Senin (20/1) malam yang baru diguyur hujan, Ratna berkata, “Sungguh, karena saya Arema (arek Malang), saya enggak rela Lemah Tanjung hilang. Saya sangat sedih. Makanya, liku-liku hidup, cinta, dan nafas perlawanan dalam novel Lemah Tanjung sedemikian kuat dan gampang terbaca. Saya melawan tidak secara fisik, tapi lewat sastra.”
Perlawanannya ini membuat Ratna belakangan tidak hanya dikenal sebagai sastrawan, tapi juga aktivis. Rumahnya yang bergaya Belanda (dibangun pada 1914) di Jalan Diponegoro, Kota Malang, dijadikan markas pertemuan para aktivis. Mereka menghimpun diri dalam Forum Pelangi (1998) hingga sekarang. “Ini forum terbuka, sebuah kelompok diskusi.”
Sebelumnya Ratna telah aktiv di Yayasan Payung, yang memfokuskan perhatian pada masalah-masalah kebudayaan, dan Yayasan Bakti Nurani, semacam lembaga swadaya masyakat untuk menangani para penyandang cacat. Yayasan ini dia dirikan pada 1973.
Bersama Yayasan Bakti Ratna ingin menularkan sikap bahwa penyandang cacat harus menjadi subyek, bukan obyek yang harus dikasihani.
RATNA Indraswari Ibrahim memang cacat. Anggota tubuhnya nyaris tak bisa difungsikan. Sehari-hari dia harus berada di kursi roda. Ke mana-mana harus disertai pembantu yang mendorong kursi roda, mengangsurkan apa-apa yang dibutuhkan, menyuapkan makanan, mengetikkan tulisan, dan lain-lain. Tapi, “Ada yang keliru menyebut saya cacat sejak lahir,” kata Ratna seraya menyodorkan foto saat berusia sepuluh tahun. Ratna tak begitu ingat kapan awal dia menderita cacat. Ini tak penting, mungkin, jadi sebaiknya diabaikan saja.
Rumahku surgaku, kata Ratna. Lahir di Malang, 24 April 1949, anak kelima dari sepuluh bersaudara ini betapa membanggakan keluarganya. Lingkungan keluarga yang demokratis amat membantu pengembangan dirinya menjadi perempuan yang berwawasan, punya empati, dan percaya diri.
Walaupun cacat, Ratna mengaku tidak pernah dimanja orang tuanya. Semua diperlakukan sama. Sang ibu, Hj. Siti Bidasari Ibrahim binti Arifin (meninggal tahun 2000 dalam usia 86 tahun), misalnya, dilukiskan Ratna sebagai wanita yang keras dan menjunjung tinggi kedisiplinan.
“Mami dan keluarga besar saya sama sekali tidak mempersoalkan cacat fisik saya. Justru, saya sadari atau tidak, keluarga terus-menerus mendorong saya untuk maju, tampil seperti orang yang fisiknya normal. Ya alhamdulillah…” Kali ini Ratna ditemui Tempo News Room pada Selasa (2/1) pagi, sembari menyeruput secangkir kopi dan hidangan ubi goreng.
Lingkungan keluarga yang demokratis membentuk banyak hal dalam diri Ratna. Ratna ingat betul betapa kedua orang tuanya membolehkan anak-anaknya menentukan pilihan, termasuk saat ia memilih hidup sebagai seniman dan keluar dari kuliahnya di Fakultas Ilmu Alam Universitas Brawijaya.
Dari atas kursi roda, Ratna telah menemukan jalan hidupnya sendiri. Dia suka travel, sehingga dulu sering diledek adik-adiknya. “Wong gak iso mlaku wae tekan endi-endi.” (”Tak bisa jalan saja kok bisa ke mana-mana.”) Ratna tertawa saja dengan guyonan itu.
Biar cacat, tapi Ratna begitu produktif menulis. Sedari kecil Ratna menyukai kegiatan tulis-menulis, khususnya cerita pendek. “Saya sudah menulis sekitar 300-an cerpen,” kata Ratna mengingat-ingat. Ada 50-an puisi karya Ratna. Sedikit cerita bersambung.
Ratna menyatakan akan tetap berkarya, sekalipun tampak repot bagi orang lain. Untuk menuliskan cerita-ceritanya, Ratna harus dibantu orang lain. Urusan menulis ini pernah membuat Ratna sedih bukan kepalang. Rini Widiyanti, asisten Ratna yang jebolan SLTP, kini mengadu nasib di Hong Kong, setelah sebelumnya menjadi tenaga kerja wanita di Malaysia.
“Saya ini menganut sastra lisan, jadi butuh asisten yang tak cuma mampu mengetik, tapi juga mengerti saya. Kepergian Rini membuat saya sedih, merasa kehilangan. Saya sempat stres tak bisa menulis selama enam bulan. Padahal, padahal di kepala ini sudah penuh bahan cerita. Mencari asisten baru tak gampang. Sekarang ya teman-teman lain yang bantu,” Ratna mengisahkan.
Posisi Rini yang istimewa karena dia telah mendampingi Ratna selama 20 tahun. Bahkan Ratna berhasil menularkan kesastrawanannya kepada Rini. Jika mencarikan bacaan untuk Ratna ke toko buku, Rini bisa lancar menyebutkan judul-judul sastra. “Dia suka sekali karya-karya Shakespeare (Inggris) dan Yukio Mishima (Jepang),” Ratna mengenang Rini.
Sudah 27 tahun Ratna menjadi sastrawan. Kebanyakan karyanya berupa cerita pendek. Sebagian besar sudah dibukukan ke dalam lima buku. Setelah Menjelang Pagi yang diterbitkan Balai Pustaka pada 1994, kumpulan cerpen kedua, Namanya, Massa diterbitkan oleh LKIS Yogyakarta (2001). Pada 2000 pula penerbit Cendela, Yogyakarta, menerbitkan Lakon di Kota Kecil. Buku keempat, Aminah di Suatu Hari, diterbitkan Galang, Yogyakarta, pada 2002. Bertepatan menjelang akhir 2002, penerbit Gramedia meluncurkan Sumi dan Gambarnya.
Sekitar 300 cerita pendek karya Ratna pernah dimuat oleh hampir semua penerbitan di Indonesia. Bahkan cerpen Ratna pernah dimuat di sejumlah antologi cerpen, antara lain terbitan harian Kompas selama tiga tahun berturut-turut (1993-1996).
Di mata Guru Besar Sastra Inggris, yang juga sastrawan dan mantan Rektor Universitas Negeri Surabaya (dulu IKIP Surabaya), Budi Darma, empati menjadikan Ratna sebagai salah satu penulis cerita pendek yang baik. “Sebagaimana halnya dalam cerpen-cerpen Ratna terdahulu, kita merasakan kelembutan perasaan Ratna. Dia pengarang berhati lembut, berhati peka,” begitu tulis Budi Darma.
Dalam pandangan kritikus sastra Dr. Djoko Sarjono, seluruh tokoh protagonis dalam cerpen Ratna adalah perempuan. Tokoh-tokohnya tak terbatas pada kaum marjinal, tapi wanita-wanita dari segala kelas. Bagi Djoko, tampak jelas Ratna seorang pembela kaum perempuan.
Hanya saja, kata Djoko, pengkarakteran dalam cerpen Ratna tidak tuntas. Sedangkan bagi Budi Darma, hampir pada setiap cerpennya Ratna melakukan gugatan-gugatan psikologis. Gugatan ini terutama diperuntukkan bagi diri sendiri. Dalam istilah sastra ini disebut solilokui.
Apa pun pendapat mereka, Ratna menyatakan terima kasih dan bersyukur karena karya-karyanya dinilai orang. “Saya merasa tidak sia-sia berkarya. Kalau tak ada yang menanggapi atau memberi kritik, misalnya, apakah masih artinya karya-karya saya itu,” kata Ratna. Ada beberapa penghargaan yang diterima Ratna, seperti juara pertama lomba puisi yang diadakan koran Bali Post pada 1983, dan pemenang harapan dalam lomba cerpen Femina tahun 1991.
Nah, ada satu penghargaan “ngawur” yang diterima Ratna dan hingga kini bisa membuatnya terbahak setengah mati. Pada Sabtu, 26 Juni 1996, Ratna mendapat piagam penghargaan yang ditandangani Menteri Negara Peranan Wanita Tutty Alawiyah AS dalam acara “Temu Tokoh Seribu Wajah Wanita Indonesia”. Dalam piagam tertera “prestasi” Ratna, yakni kepemimpinan dan manajemen peningkatan peran wanita. Merasa tak berhak menerima penghargaan dengan kriteria tak jelas itu, Ratna lalu mengembalikan piagam penghargaan itu lewat jasa pos ke kantor Menteri Peranan Perempuan di Jakarta.
Menulis hanyalah salah satu kegiatan, tapi berbuat nyata untuk orang lain adalah “tugas besar” yang terus ingin dia tunaikan, sekalipun dari atas kursi roda. Dan selagi dia mampu.
Kamis, 07 Oktober 2010
Pantun Tujuh Belas Rakaat
PANTUN TUJUHBELAS RAKAAT
POTONG BAMBU TIGA RUAS
BAMBU COKLAT JADIKAN SAPU
MARI KITA JANGANLAH MALAS
DIRIKAN SHOLAT LIMA WAKTU
BAMBU COKLAT JADIKAN SAPU
SAPU DIBERI SABUT IJUK
DIRIKAN SHOLAT YANG LIMA WAKTU
SUPAYA HATI MENJADI SEJUK
SAPU DIBERI SABUT IJUK
GABAH DI SIMPAN DALAM WADAH
JIKA HATI TERASA SEJUK
WAJAH TERLIHAT LEBIH CERAH
GABAH DI SIMPAN DALAM WADAH
WADAH DI BERI TANDA MERAH
WAJAH TERLIHAT LEBIH CERAH
DUNIA MENJADI KIAN INDAH
DAHAN COKLAT TIANG BAMBU
BELAH BULUH JADIKAN SERAT
DIRIKAN SHOLAT YANG LIMA WAKTU
PASTILAH TUBUH MENJADI SEHAT
DAHAN COKLAT TIANG BAMBU
UKIR LABU DI ATAS MEJA
DIRIKAN SHOLAT YANG LIMA WAKTU
AMBIL WUDHU DENGAN SEMPURNA
UKIR LABU DI ATAS MEJA
AYAM MELOMPAT DI TEPI GUBUK
AMBIL WUDHU DENGAN SEMPURNA
JADIKAN SHOLAT LEBIH KHUSUK
AYAM MELOMPAT DI TEPI GUBUK
KATAK BERNYANYI DI DEKAT SAWAH
JADIKAN SHOLAT LEBIH KHUSUK
AKHLAK KITA MENJADI INDAH
KATAK BERNYANYI DI DEKAT SAWAH
CEGAH BANGAU JANGAN TERJAGA
AKHLAK KITA MENJADI INDAH
ALAMAT BANGSA AKAN SEJAHTERA
CEGAH BANGAU JANGAN TERJAGA
DINDING DIBERI WARNA JINGGA
ALAMAT BANGSA AKAN SEJAHTERA
PEMIMPIN DIPUJI RAKYAT GEMBIRA
TONGKAT GALAH JADI SENJATA
GALAH DI HIAS GURAT-GURAT
SHOLAT JAMAAH LEBIH UTAMA
PAHALA DIBERI BERLIPAT-LIPAT
GALAH DIHIAS GURAT-GURAT
GURAT DISUSUN DELAPAN TINGKAT
PAHALA DIBERI BERLIPAT-LIPAT
UMAT MENJADI KIAN DEKAT
Kamis, 23 September 2010
Senin, 20 September 2010
singkatan, klo ada yg brguna
A/S/L? = Age/Sex/Location?
BRB = Be Right Back
BBL = Be back later
BBIIAF = Be back in a flash
BTW = By The Way
CUL = See You Later
F2F = Face To Face
FYA = For Your Amusement
FYI = For Your Information
HHOK = Ha..ha.. Only Kidding
TNX = Thank's
OIC = Oh, I see
IMHO = In My Humble Opinion
IMO = In My Opinion
OTOH = On The Other Hand
LOL = Laughing Out Loud
OTF = On The Floor
ROTFL = Rolling On The Floor Laughing
YMMSVH = You Make Me So Very happy
NP = No Problem
RE = Hi again
J/K = Just Kidding
WB = Welcome back
Universal emotion :
:-) atau :) = Senang / tersenyum.
:-( atau : ( = Sedih / kecewa
: - 0 atau : - o = Terkejut/ heran
:- @ = Berteriak
:- < = Sedih sekali
:- || = Marah
:-D = Tertawa
:’-( = Menangis
;-) = Berkedip
%-) = Bahagia --bingung
%-( = Sedih --bingung
:- / atau :- \ = Pikir-pikir
: P = Meledek
Kaomoji Emotion :
(^_^) atau (^-^) = Tersenyum
(^0^) = Tertawa lebar
(^.^) = Senyum simpul
\(^0^0)/ = Bersorak riang
(^3^) = Berseru
(*^-^*) = Senyum malu, tersipu
(o^-^o) = Senyum merona
("-";) = Merasa terganggu
(-_-;;) = Gugup
f(^_^) = Garuk garu kepala
(T_T) = Menangis
( ;_; ) = Menitikkan air mata
(" ~ ") = Manyun
(>_<) = Geram
(-_-#) = Marah
(+_+) = BeTe
(x_x) = Pusing
(x_x#) = Pusing habis dipukuli
(?_?)...??? = Bertanya-tanya dalam hati
(@_@) = Melotot, Heran
( _ _ )..zzZZ = Tidur
( _ _ ")..zzZZ = Bosan sampai ketiduran
m( _ _ )m = Memohon
w(^ _ ^) = Mendengarkan
(*^3^) = Mencium
(*^.^*) = Dicium
(=_=) atau (#^ ^#) = Malu sampai tersipu-sipu
( _ _ ) ..ooOO = Bermimpi
Ø(. .) = Menulis
((( (((;^ ^) = Berlari
C=C=(;' _') = Tergesa-gesa
(o_ _)o = Putus asa
(^ _^)d = Acungkan jempol
(^ _^)V = Tanda peace
(p^ ^)p = Ngajak brantem
y(^o^)y~~~ = Merokok
Simbol | Arti / ekspresi yang diungkapkan | Simbol | Arti / ekspresi yang diungkapkan | Simbol | Arti / ekspresi yang diungkapkan |
%-( | Bingung | (:-( | Tanpa senyum | :-D | Tertawa |
%-) | Bego | * | Cium | ;-) | Mengedipkan mata |
%-6 | Mati Kutu | *<:-) | Santa claus | :V:-| | Bingung dicuekin |
%-} | Jenaka atau ironis | +<:-) | Pemimpin Agama | :- | Laki-laki |
>>:-<< | Naik Pitam | +<:-| | Biarawan/Biarawati | :-@ | Berteriak |
>- | Perempuan | +:-) | Pendeta | :-e | Kecewa |
>-< | Naik Darah | +O:-) | Paus | :-O | Mulut terbuka lebar atau terkejut |
>-) | Kedipan Setan | 0:-) | Malaikat | :/) | Nggak lucu |
>:) | Setan Kecil | 8-o | Shocked | :/i | Dilarang merokok |
>:-) | Setan Licik | 8-O | Kaget dan heran | :@ | Apa? |
>:-> | Setan Amat Licik | : | | Bosan atau sedih | ||
>:-< | Gusar | : ( ) | Mulut lebar, banyak bicara atau berteriak | ||
>:-( | Merasa terganggu | :* | Cium | ||
<:> | Ekspresi licik | :** | Cium balik | ||
( ) | Peluk | :,( | Menangis | ||
(( )):** | Peluk cium | :) | Bahagia | ||
(:-& | Marah | :( | Sedih |
Simbol | Arti | Simbol | Arti | Simbol | Arti |
A/S/L | Age/Sex/Location | BTSOOM | Beats the s**t out of me | IMHO | In My Humble Opinion |
AFAIC | As Far As I'm Concerned | BTW | By the way | K | Kiss |
AFAIK | As Far As I Know | BYOH | Bat you onna head | LOL | Laughing out loud |
AFK | Away From Keyboard | CIO | Check it Out | MOTOS | Members of the opposite sex |
AMBW | All My Best Wishes | CUL8R | See You Later | OBTW | Oh, by the way |
ASAP | As Soon As Possible | DKDC | Don't Know Don't Care | sSi | stop SHOUTING, idiot! |
ATST | At The Same Time | Eg | Evil grin | ||
AYSOS | Are You Stupid Or Something | EOM | End Of Message | ||
B4 | Before | FYI | For Your Information | ||
B4N | Bye For Now | GL | Good Luck | ||
BBN | Bye Bye Now | GTGB | Got To Go, Bye | ||
BBL | Be Back Later | h | Hug |