Selasa, 29 Maret 2011
Selly, Gayus dan sisi kelam jiwa manusia
Dalam dunia persilatan , ada golongan putih ada golongan hitam. Ada kaum lurus ada kaum sesat. Ada durjana ada ksatria. Tak pelak lagi Selly dan Gayus tergolong tokoh sakti golongan hitam. Kemampuan mereka meracik jurus-jurus terbukti banyak meruntuhkan pentolan-pentolan golongan (yang selama ini kita anggap) putih. Soal kemudian mereka dinyatakan bersalah, itu urusan penegak hukum di dunia dan urusan mereka dengan Tuhan di akhirat kelak. Urusannya dengan kita ialah kenyataan bahwa Selalu ada sisi lemah dalam jiwa kita. Suatu sudut gelap yang mudah dimasuki anasir luar tanpa dapat kita cegah dan orang semacam Selly dan Gayus tahu sekali memanfaatkan sisi tersebut. Siapa yang tidak ingin mendapatkan untung dengan cepat, mudah dan berlipat-lipat ? Siapa pula yang tidak ingin harta berlimpah tanpa bersusah payah ?ketika keinginan itu sedemikian kuatnya maka logika, nasihat atau apalah namanya tidak terlalu bermanfaat.
Rindu Motinggo
Mungkin tidak banyak yang masih ingat beliau saat ini. Tapi gw salah satu dari yang gak banyak itu. Novelnya dengan tokoh iwan saga yang gw baca ketika remaja, atau cerpennya bangku batu masih ku rindukan untuk ku baca ulang.
Mugkin tidak banyak yang serius dengan karya2 nya, apalagi ketika masa ia menulis puluhan(atau ratusan) novel yg "agak" semacam lucy mei ling..atau petualangan manusia harimau.
Tapi bagi gw, yang gila membaca sejak bisa membaca,
motinggo Boesye adalah petualang sejati. Pengembara padang kearifan. Musafir yg akhirnya(saya yakin!) telah bersua telaga kebajikan.
Hal yang mugkin belum di capai pengembara2 lainnya!
Mugkin tidak banyak yang serius dengan karya2 nya, apalagi ketika masa ia menulis puluhan(atau ratusan) novel yg "agak" semacam lucy mei ling..atau petualangan manusia harimau.
Tapi bagi gw, yang gila membaca sejak bisa membaca,
motinggo Boesye adalah petualang sejati. Pengembara padang kearifan. Musafir yg akhirnya(saya yakin!) telah bersua telaga kebajikan.
Hal yang mugkin belum di capai pengembara2 lainnya!
Senin, 28 Maret 2011
Kotak 800 juta
Pernahkah seorang warga saat memasuki bilik tempat ia nyoblos pada pemilu yang lalu membayangkan bahwa ruangan yang ditempatinya akan berharga sangatsangat mahal ? 99,99% jawabnya tidak. Namun, hal yang tampaknya tidak mungkin alias impossible itu kini jadi kenyataan. Dari setiap anggota DPR yang dicocok pemilih gambar mukanya di pemilu lalu sekarang akan mendapat kenyamanan baru yaitu ruang kerja seharga 800 juta.total biaya yang akan dihabiskan 1,1 triliun (atau bahkan lebih karena belum termasuk aksesoris dan perangkat teknologi pendukungnya). Hmm..., kita bangsa yang sangat pemurah. lewat sebuah kotak sederhana, kita pilih orang yang kemudian dengan penuh hormat kita biarkan mereka menghamburkan triliunan uang kita sementara banyak tetangga kita terpaksa menyuap nasi daur ulang untuk perut mereka yang menjeritkan suara marah sang Pencipta....
Drupadi
Sebuah nama yang kerap berseliweran di benakku akhir-akhir ini adalah Drupadi. Bukan karena ia mengawini lima “lelaki sejagad” sekaligus, yaitu pendawa lima, bukan pula karena ia terlahir dari Putrakama Yadnya, upacara dengan api suci, bukan pula karena kehormatannya tetap terjaga ketika angkara murka Dursasana dan kelicikan watak Sengkuni berusaha menodainya.
Namun kurasa bukan hal aneh bila nama ini sekarang rajin menyinggahi benakku. Dulu ia juga menyita perhatian para sunan walisongo, yang kemudian menyesuaikan versi perkawinannya dengan hanya menikahi Yudistira, sulung dari Pandawa. Angkara murka yang tidak berhasil menguasainya dengan indah dikisahkan Goenawan Muhamad dalam Catatan Pinggirnya. Drupadi juga menyita perhatian Riri Riza dan Dian Sastro untuk mencoba menyirap keindahan kisah hidupnya.
Drupadi, pikiranku tahu, rasaku juga tahu, ia wanita luar biasa. Tidak ada kecantikan yang digambarkan secara luar biasa seperti Sumbadra. Tidak pula keperkasaan layaknya Srikandi, namun aku tahu, ia wanita luar biasa. Lalu apa yang menjadikannya luar biasa ? entahlah. Yang ku tahu pasti ia wanita dan setiap wanita, bahkan siapapun dia, adalah mahluk yang luar biasa
Minggu, 27 Maret 2011
PSSI, Bola dan Cerita Bapak
Bola…, bisa saja bola voli, bola basket atau bola pingpong. Namun jika disebut bola saja, pasti akan terpikir bola kaki atau sepak bola. Ya, sepak bola demikian “mendarah mendaging dan mengotak” dalam tubuh sebagian besar dari kita. Tulis sebuah kata, seumpama Irvan Bachdim, lingkari dan beri anak panah keluar dari lingkaran tersebut yang mewakili sebuah kata yang terkait, maka sebuah jejaring anak panah akan memenuhi kata itu. Demikian juga misalnya jika anda melakukan hal yang sama dengan kata Lionel Messi atau “El loco” Chris Go.
Padahal waktu saya kecil, Bapak pernah bercerita bahwa pasukan yang membantai cucu Rasullullah SAW, menjadikan kepala cucunda yang mulia itu sebagai bola sepak mereka. Bapak menceritakan itu untuk menekankan bahwa, sepak bola adalah permainan yang “tidak beradab”. Saya setuju, bahwa sepak bola memang permainan yang tidak beradab…, jika dimainkan dengan kepala siapapun, apalagi cucunda baginda Rasulullah yang mulia.
Hari ini, uang menjadikan permainan tidak beradab itu menjadi sebuah industri triliunan rupiah, menjadi sebuah tontonan yang mengusik dan mengaduk-aduk emosi sekian banyak manusia bahkan menjadi sebuah sebuah batu penjuru baru bagi kata nasionalisme. Namun beberapa jam yang lalu, sebuah berita saya dengar tentang PSSI, otoritas yang diserahi wewenang agar permainan tidak beradab tersebut dapat, setidaknya, menghibur rakyat yang saat ini tengah dihimpit berbagai persoalan melalukan perbuatan yang kembali mengingatkan saya tentang cerita bapak bahwa dulu pasukan pembantai cucunda Rasulullah SAW yang mulia menjadikan kepala yang mulia itu sebagai bahan permainan sepabola ….
Padahal waktu saya kecil, Bapak pernah bercerita bahwa pasukan yang membantai cucu Rasullullah SAW, menjadikan kepala cucunda yang mulia itu sebagai bola sepak mereka. Bapak menceritakan itu untuk menekankan bahwa, sepak bola adalah permainan yang “tidak beradab”. Saya setuju, bahwa sepak bola memang permainan yang tidak beradab…, jika dimainkan dengan kepala siapapun, apalagi cucunda baginda Rasulullah yang mulia.
Hari ini, uang menjadikan permainan tidak beradab itu menjadi sebuah industri triliunan rupiah, menjadi sebuah tontonan yang mengusik dan mengaduk-aduk emosi sekian banyak manusia bahkan menjadi sebuah sebuah batu penjuru baru bagi kata nasionalisme. Namun beberapa jam yang lalu, sebuah berita saya dengar tentang PSSI, otoritas yang diserahi wewenang agar permainan tidak beradab tersebut dapat, setidaknya, menghibur rakyat yang saat ini tengah dihimpit berbagai persoalan melalukan perbuatan yang kembali mengingatkan saya tentang cerita bapak bahwa dulu pasukan pembantai cucunda Rasulullah SAW yang mulia menjadikan kepala yang mulia itu sebagai bahan permainan sepabola ….
Jumat, 25 Maret 2011
kawat
perkara kawat memang bukan main main. Cerita teman saya, seorang teman istri mampu meraup ratusan juta rupiah dari bisnis kawat gigi, berupa penjualan dan pemasangan. Kawat gigi memang lagi trend d plg saat ini, remaja utamanya para gadis, rebutan mau pasang kawat gigi. Saya ketawa melihat dan mendengar siswi saya yg trs2an menghirup liurnya gara2 kwt gi2 yg mengganggu.
Soal mengganggu inilah yg bikin pak pres kita berang. Bukan lantaran beliau psg kwt gi2 lho. Tp kawat diplomatik yg dikirim pihak as dan bocor ke wikileaks trus meluber kemana2 kyk banjir di ibukota yg bkn istana cenat cenut.
Pokoknya gak kawat gigi gak kawat diplomatik sm2 bikin bete..., tentu saja bagi yg lg kena lilit kawat itu. Bagi saya , yg gak terlibt, perkara kawat itu bikin senyum
Soal mengganggu inilah yg bikin pak pres kita berang. Bukan lantaran beliau psg kwt gi2 lho. Tp kawat diplomatik yg dikirim pihak as dan bocor ke wikileaks trus meluber kemana2 kyk banjir di ibukota yg bkn istana cenat cenut.
Pokoknya gak kawat gigi gak kawat diplomatik sm2 bikin bete..., tentu saja bagi yg lg kena lilit kawat itu. Bagi saya , yg gak terlibt, perkara kawat itu bikin senyum
TAMPAN
Ada sebuah kisah yg dapat anda baca dalam buku tentang kisah hidup bagi Nabi Saw tentang seorang pemuda, Ammar. Ia seorang pemuda yang terkenal tampan serta kaya raya. Sang ibu, yang sangat mencintainya tak segan membeli pakaian dan perhiasan mahal sehingga keadaan pemuda ini kian memikat mata yang memandang. Namun semua itu lenyap ketika Ammar memeluk Islam. Ia memang masih tampan meski kehilangan pakaian dan perhiasan mewah bahkan walaupun harus pula menjadi bahan siksaan sang ibunda yang dulu amat mencintainya. Siapa yang salah ? Keislaman Ammar atau cinta sang ibunda ? Dalam hidup terkadang orang dihadapkan dalam pilihan yg sulit . Masalahnya sudahkah orang itu menembus ke inti , meninggalkan lapisan sekat yang nyaman dan melenakan ? Ammar mampu, pertanyaan di atas dijawabnya semudah memilih emas murni di antara bata. Diakhir hidupnya Ammar hampir kehilangan semuanya, ketampanan, kekayaan dan kejayaan. Ia hanya membawa hormat dan cinta mahluk yang paling mulia dan berbekal cinta pada sang pemilik segala cinta dan kemuliaan
Langganan:
Postingan (Atom)